Wednesday, 8 April 2009

Menilai Diri Sendiri

Dalam proses pengembangan diri, seringkali berawal dari pengamatan terhadap  diri sendiri.

Pada awalnya, kita bisa menilai, diri kita penuh amarah, kita bisa menilai diri kita penuh ketamakan, penuh kebencian, dsbnya... Penilaian ini kasat mata bagi kita saat itu. Penilaian ini bisa terjadi karena batin yg kita amati adalah batin kasar.

Ketika terus menerus mengasah kesadaran kita, kita mulai menyadari batin2 negatif yg lebih halus, misalnya: kita mengamati bahwa terkadang batin kita sombong, batin kita munafik, batin kita penuh kepalsuan, batin kita senang dipuja. Penilaian batin sendiri ini adalah penilaian yg mulai tajam, penilaian terhadap batin yg sedikit lebih halus dibanding sebelumnya.

Pada tahapan lebih lanjut lagi, kita dapat menilai banyak hal terhadap batin sendiri yg sulit terdeteksi dibanding ketika kita baru mulai dahulu.

Dan tentu saja, selain bisa menilai hal2 yg negatif tentang diri sendiri, kita juga bisa menilai hal2 yg postif juga. Misalnya, kita bisa menilai bahwa diri kita penuh kasih sayang terhadap binatang, atau kasih sayang terhadap anak yatim piatu, atau kita juga bisa menilai diri kita penyabar, atau tidak terlalu peduli dengan materi, dsbnya.

Kemampuan 'menilai diri sendiri' adalah wajar dan mutlak diperlukan dalam usaha

memperbaiki kualitas diri sendiri.

Padang, 8 April 2009


::

Tuesday, 3 March 2009

GURU

Tidak usah mencari Guru nan jauh disana, nan jauh di hutan2 atau di pelosok-pelosok gunung dan gua…  

Sebenarnya ada 3 macam Guru: pertama, Guru yg menguasai kitab dengan baik namun tidak dengan sikapnya. Kedua, Guru yg tidak tau apa2 tentang kitab namun sikapnya amatlah terpuji, dan yg ketiga adalah guru yg menguasai kitab dab sikap dengan baik.

Guru yg bertipe ketiga begini amatlah susah ditemui, ditengah kesibukan kita sehari-hari, amatlah beruntung jika bisa bersua dengan Guru yang sempurna tersebut. Namun, bagi yg belum begitu beruntung, tidak usah khawatir, Guru yg bertipe kedua, bertebaran disekeliling kita. Mereka dapat diketahui dari sikapnya yg penyabar, tenang dan penyayang. Kita dapat meneladani dan mencontoh sikap mereka. Kita dapat merujuk dan merenungkan sikap mereka yg sabar, tenang dan penyayang. Kita dapat berguru kepada mereka. Mereka-mereka ini, meski tidak menguasai teori Pencerahan sedikitpun, sesungguhnya adalah Guru nan Sejati. Mereka-mereka ini mungkin saja ayah/Ibu kita, mungkin saja Istri/Suami kita, atau ipar atau sepupu atau teman kita… Guru-guru ini bisa siapa saja di sekeliling kita…

Bagaimana dengan Guru pertama, yakni yang menguasai kitab dengan amat sempurna namun belum tentu dengan sikap kesehariannya? Ada orang bijak yg mengatakan: “Anda tidak akan tercerahkan di University”. Guru begini amatlah banyak, tidak usah mencari jauh-jauh… tidak usah khawatir dengan teori Dhamma, jika ingin intelek berteori Dhamma, internet dan buku-buku dapat menjadi subsitusi untuk Guru-guru begini… 

Maha Guru nan bijaksana menganjurkan kita untuk senantiasa menyempurnakan batin kita, sikap kita, reaksi kita, pikiran kita… Jika tujuan kita sesuai dengan anjuran Sang Guru tersebut, maka bergurulah kepada orang-orang yg baik sikapnya, baik batinnya, baik kepribadiannya… Berguru dengan cara mencontoh dan meneladani sikap mereka...


William Halim,

Padang, 3 Maret 2009

Monday, 12 January 2009

Kebahagiaan

"Kebahagiaan", kata ini merupakan dambaan semua orang. Malah disadari atau tidak, kata tersebut adalah tujuan setiap orang. Semua orang, apapun kegiatannya tujuannya adalah untuk meraih "kebahagiaan" ini. Segala macam cara akan mereka lakukan untuk meraih "kebahagiaan" ini. Amrozi yg meledakkan bom di Bali pun melakukannya demi alasan ini, supaya hidup berbahagia di surga. Sayangnya, caranya salah kaprah. Apakah dengan membunuh orang-orang "kebahagiaan" akan berhasil diraih? Apakah dengan jalan kebencian, kekesalan, kemarahan, "kebahagiaan" akan berhasil diraih? Bukankah jalan menuju kebahagiaan harus selaras dengan tujuan itu sendiri? Mungkin Amrozi cs tidak pernah merenungkan hal ini. Mungkin bukan hanya Amrozi cs, mungkin juga kita semua sangat jarang merenungkan hal ini.

Sangat sering kita ingin bahagia namun dengan cara yg salah. Jalan "kebahagiaan" bukanlah jalan yg berlawanan dengan tujuan tsb, bukan kemarahan, tangisan, kesedihan, kekesalan, kebencian, ketamakan, dsbnya. Jalan untuk mendapatkan "kebahagiaan" adalah jalan yg selaras dengan tujuan, yakni: kasih sayang, belas kasihan, ketenangan, keseimbangan.

Seperti contoh memberi sedekah untuk seorang pengemis; bahagia sewaktu ingin memberi, bahagia sewaktu memberi sedekah, bahagia setelah memberi sedekah.

Kebahagiaan indah di awal, indah di tengah dan indah di akhir. Inilah jalan "kebahagiaan". Jangan sampai terkecoh lagi. Selalu waspada terhadap jalan ini.

Padang, 12 Januari 2009

::

Saturday, 10 January 2009

Kursi Air Asia

Malam tadi sy berbincang_bincang dgn seorang engkoh2. Beliau sorenya baru balik dari KL bersama istrinya. KL - Padang pesawatnya Air Asia; dimana semua penumpang tidak diberi nomor kursi dan berebutan memilih kursi masing2. Karena si engkohberumur diatas 65 thn, maka beliau diperbolehkan lebih dulu naik pesawat sblm yg lainnya dan beliau memilih kursi paling depan, juga untuk istrinya.

Ketika para penumpang mulai masuk, terdapat seorg gadis yg stroke (umur 20 sdh kena stroke!) beserta mamanya. Pramugari bertanya, apakah si gadis boleh duduk di sebelah dalam (kursi Air Asia tsb 3 perbarisnya). Engkoh tsb dan istrinya berdiri mempersilahkan masuk, namun melihat mama si gadis mencari tempat duduk lain, akhirnya si engkoh memberikan tempat duduknya ke mama anak tsb dan mencari tempat duduk lain agak ke belakang. 

Di belakang tempat duduk kosong tidak ada lagi yg dempet dua. Adanya satu kosong dan lainnya di baris yg lain. Akhirnya si Engkoh dan istri nya duduk masing-masing di kursi kosong yg berseberangan baris. Untunglah, ada seorg pemuda yg berdiri dan mempersilahkan si engkoh untuk duduk bersebelahan dgn istrinya dan si pemuda kemudian pindah ke tempat duduk si engkoh.

Berebutan tempat duduk di Air Asia, seperti juga berebutan-berebutan tempat lainnya, sarat dgn egoisme. Dari kejadian di atas si engkoh mengakui dgn jujur bahwa dia berusaha mengalahkan ego-nya untuk bisa memberikan kursi tsb. Dan setelah perbuatan tsb dilakukan, perasaannya menjadi puas (sy artikan: berbahagia, karena ia me-reply kejadian tsb sambil tersenyum). Apalagi, dengan adanya tindakan si pemuda yg kemudian mengalah, memberikan tempat untuk si engkoh dan istrinya; perbuatan baik si engkoh berkemungkinan telah menginspirasi org lain unt berbuat baik pula.

Kami akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa: perbuatan baik mesti dilatih.

Perbuatan baik, seperti perbuatan-perbuatan kita yg lainnya, adalah hasil latihan yg kita lakukan berulang-ulang. Tidak selalu kita mendapat kesempatan untuk bisa berbuat baik, dan tidak gampang bagi kita untuk berbuat baik jika kesempatan tsb tiba. Seringkali ego kita lebih mendominasi. Ego akan membimbing kita untuk mengamankan posisi kita dan tidak mau tau dgn kondisi sekitar. Yg penting posisi kita sdh senyaman mungkin, masa bodoh dgn org-org lain yg kesusahan. 


Kejadian sehari-hari seperti contoh diatas, kalau kita 'sadari' sangat sering terjadi dalam kehidupan kita. Cuman saja, kita ada menyadari-nya atau tidak. Jika ada kita sadari, apakah kita ada mengambil tindakan yg baik atau tidak. 

Seperti kata engkoh tadi: "Untuk bisa berbuat baik, diperlukan latihan"

Padang, 10 Jan 09

::

Wednesday, 31 December 2008

Plastik Majalah (Broken Window)

Ada suat teori, namanya "Teori Broken Windows". Teori ini berprinsip bahwa pecahnya suatu bidang jendela akan mengkondisikan pecahnya bidang2 lainnya dengan lebih mudah dan cepat. 

Dalam keseharian kita, teori ini dapat kita rasakan sendiri kebenarannya. 

Ambil contoh, suatu kebiasaan buruk yg belum pernah kita lakukan. Ketika melakukan kebiasaan tsb untuk PERTAMA KALI nya, kita akan berpikir 1000x, takut dan was-was... namun jika tindakan tsb berhasil kita lakukan, maka untuk melakukan tindakan yg kedua, ketiga dan seterusnya akan jauh lebih mudah. Pada akhirnya tindakan tsb akan menjadi kebiasaan kita.

Semua kebiasaan dimulai dari 'sebuah tindakan pertama'. Ini berlaku untuk 'kebiasaan baik' dan juga 'kebiasaan buruk'. 

Untuk bisa menjadi manusia bersifat baik, kita harus memulainya dengan tindakan2 baik yg kecil dan harus mengurangi tindakan2 tidak baik. Dengan prinsip 'Broken Windows', maka menghindari hal2 kecil yg buruk dan memulai hal2 kecil yg baik, akan berakibat besar nantinya.

Lebih mudah membayangkan teori ini dengan sebuah sampul majalah plastik. Jika kita membeli sebuah majalah atau buku yg sudah diplastikin, membuka plastik ini untuk pertama kalinya amatlah susah, namun jika plastiknya sudah sobek sedikit saja, maka akan sangat mudah untuk menyobek keseluruhan sampul plastik tsb.

Padang, 31 December 2008

::

 

Sunday, 24 August 2008

Sunset Policy

Kemarin saya ikut seminar perpajakan yg membahas masalah "Sunset Policy". "Sunset Policy" adalah program pemerintah yang memberikan kesempatan kepada para wajib pajak untuk mendaftarkan harta yang mereka miliki yang belum didaftarkan di SPT tanpa dikenai sanksi dan denda. Program ini akan habis masa berlakunya pada tanggal 31 Desember 2008.

Entah kenapa program yang mirip-mirip "Tax Amnesty" ini diberi nama "Sunset Policy". "Sunset" -yang kita tau- adalah masa-masa peralihan dari siang ke malam, terang ke gelap... apakah mungkin "Sunset Policy" artinya adalah: Matahari sebentar lagi mau terbenam, cepat-cepatlah lapor sekarang. Masa-masa terang (nyaman) akan segera berakhir dan tahun depan akan dimulai masa-masa pembantaian bagi kekayaan yang tidak dilaporkan... Apakah begitu artinya? Tidak tau juga.

Jadi, dari hasil seminar kemarin, yang pembicaranya adalah 2 orang akuntan publik yang paling terkenal di Kota Padang dan para pesertanya sebagian besar adalah para pengusaha, menekankan pada tiga poin:
1. Laporkanlah kekayaan anda yang selama ini belum terdaftar di SPT, misalnya: tanah, deposito, mobil, dsbnya.
2. Lakukan pembetulan SPT beberapa tahun belakang (2006, 2005, 2004) agar kelihatan 'wajar' menunjang kekayaan anda tersebut.
3. Untuk tahun- tahun berikutnya, laporkanlah penghasilan anda agar lebih 'wajar' dibanding laporan tahun-tahun sebelum ini.
4. Bagi yang belum memiliki NPWP, segera daftarkan NPWP baru anda dan ikuti point 1 dan 3 diatas.

Pembicara sangat menganjurkan agar kita-kita segera memanfaatkan kesempatan "Sunset Policy" ini. Meskipun terdapat sedikit perbedaan pendapat apakah "Sunset Policy" ini akan beresiko pada pemeriksaan dan pembayaran atas harta-harta yang dilaporkan tersebut, namun secara global: 'melaporkan' sekarang tetap lebih baik dibanding 'tidak melaporkan' sekarang ini. Kenapa? Karena jika kita tidak melapor sekarang ini, dan tahun depan Dirjen Pajak mengetahui harta-harta kita tersebut, maka akan ditagih pajak pendapatan atas harta tersebut plus denda, bunga dan sanksi (bisa pidana).

Kesempatan "Sunset Policy" ini tidak hanya terbatas pada pengusaha dan 'orang-orang kaya' saja, namun juga bermanfaat bagi para pegawai. Karena, jika tidak melaporkan mempunyai kekayaan dan tahu-tahu si pegawai bisa membeli mobil atau rumah, maka akan terkena sanksi juga. Jadi, segeralah laporkan kekayaan anda sekarang, manfaatkan "Sunset Policy" dan anda bisa tidur nyenyak.

Catatan:
1. "Bisa Tidur Nyenyak" adalah semboyan Dirjen Pajak untuk program Sunset Policy ini :)
2. Bagi agama ketuhanan, "Sunset Policy" bisa berarti semacam 'pengakuan dosa' dan bagi ajaran Buddhism "Sunset Policy" adalah kesempatan berbuat Kamma Baik.

::

Friday, 1 August 2008

"Diam dek..."

Beberapa hari yang lalu, anak saya yang tertua Miguelle berkelahi dengan adiknya, Georgia. Pokok permasalahannya ternyata Miguelle telah menyenggol adiknya sehingga terjatuh. Georgia menagis dan tidak mau diam. Saya dan mamanya berusaha mendiamkan, Georgia juga tidak mau diam, malah tangisannya makin keras. Akhirnya saya berkata pada Miguelle, “Migel, bilang ‘diam dek’ ke Georgia, ayo”… Miguelle nggak mau, saya berkata “Apa beratnya sih membilang ‘diam dek’?”. Miguelle menjawab “Yang berat perasaannya”. Akhirnya setelah saya kasih pengertian, Miguelle mau membilang ‘Diam Dek’ ke adiknya, dan ternyata si Georgia langsung diam tangisannya begitu dibilang oleh Miguelle, padahal saya dan mama-nya yang telah berusaha membujuknya beberapa kali, tidak berhasil.

Ada dua pelajaran yagn saya dapatkan dari peristiwa itu.

~ Pertama, Miguelle yang berumur 8 tahun telah mengatakan bahwa yang memberatkannya untuk mengatakan ‘Diam dek’ pada adiknya adalah ‘perasaannya’, dengan kata lain dia mengakui bahwa sebenarnya ‘gengsi’ alias ‘ego’ lah hambatan seseorang untuk mengaku salah kepada orang lain. Saya sesungguhnya bersyukur dia bisa menyadari hal itu, karena untuk mengubah perilaku buruk kita, pertama-tama kita haru dapat menyadari/mengakui-nya terlebih dahulu. Menyadari/mengakui ‘Ego’ sendiri merupakan hal yang tersulit.

~ Kedua, Georgia yang ‘tidak mau diam’ oleh bujukan saya dan mama-nya ternyata bisa diam hanya oleh ‘satu kalimat datar’ dari kakaknya. Kenapa? Kerena selama ini si kakak gengsi-nya agak tinggi, sehingga ketika si kakak membujuk adiknya, itu sudah merupakan peristiwa langka dan luar biasa bagi si adik. Georgia sangat menghargai kerendahan hati yang ditunjukkan kakaknya saat itu.

william halim
Padang, 1 Agustus 2008

::